Sabtu, 23 Februari 2013

PUISI ANGKATAN 45, Balai Pustaka, Pujangga Baru


ANGKATAN 45

Wednesday, November 30th 2011. | Bahasa Indonesia

ANGKATAN 45

Angkatan 45 ini lahir dalam lingkungan yang sangat memprihatinkan  dan serba keras karena pada masa penjajahan Jepang.

Ciri-ciri angkatan 45 :

-          Pengaruh unsur sastra asing luas.

-          Terbuka.

-          Individualisme sastrawan menonjol, dinamis, dan kritis.

-          Isi lebih realis dan naturalis.

-          Ekspesif.

-          Penghematan kata dalam karya.

-          Karangan prosa berkurang, puisi berkembang.

-          Sarkasme dan sinisme

Pengarang dan karya angkatan 45 :

-          Deru campur debu (Chairil Anwar)

-          Suara (Toto Sudarto Bahtiar)

-          Dalam sajak (Sitor Situmorang)

-          Puntung Berasap (Usmar Ismail)

-          Tandus (S.Rukiah)

-          Pembebasan Pertama (Amal Hamxah)

ANGKATAN BALAI PUSTAKA

Balai pustaka merupakan titik tolak kesusastraan Indonesia..

Ciri-ciri Angkatan Balai Pustaka :

-          Menggunakan bahasa indonesia yang masih terpengaruh bahasa melayu.

-          Dipengaruhi kehidupan tradisi sastra daerah.

-          Persoalan yang di anggkat tentang adat, kedaerahan, dan kawin paksa.

-          Bersifat romantisme.

Contoh sastra Angkatan Balai Pustaka :

-          Azab dan sengsara (Merari siregar)

-          Salah pilih (Nur Sutan Iskandar)

-          Siti Nurbaya (Mara rusli)

-          Dua sejoli (M.Jassin)

-          Puisi Percikan Permenungan (Rustam Effendi)

-          Puspa Aneka (Yogi)

Angkatan Pujangga Baru

Angkatan Pujangga Baru adalah bapak dari sastra modern Indonesia..

Ciri-ciri Sastra Angkatan pujangga Baru :

-          Menggunakan bahasa undonesia.

-           Pengaruh barat mulai masuk dan berupaya melahirkan budaya nasional.

-          Menonjolkan nasionalisme, meterialisme, intelektualisme, individualisme, romantisme.

-          Menceritakan kehidupan masyarakat kota.

Ada dua kelompok jenis sastrawan Pujangga Baru yaitu :

Seni untuk seni.

Seni untuk rakyat.

Pengarang dan karyanya :

Armijn Pane :
Belenggu (1954)
Jiwa Berjiwa
Gamelan Djiwa – kumpulan sajak (1960)
Djinak-djinak Merpati – sandiwara (1950)
Kisah Antara Manusia – kumpulan cerpen (1953)

Sutan Takdir Alisjahbana :
Layar Terkembang (1948)
Tebaran Mega (1963)

Amir Hamzah :
Nyanyi Sunyi (1954)
Buah Rindu (1950)
Setanggi Timur (1939)

Muh Yamin :
Indonesia, Toempah Darahkoe! (1928)
Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
Ken Arok dan Ken Dedes (1951)
Tanah Air

Sanusi Pane :
Pancaran Cinta (1926)
Puspa Mega (1971)
Madah Kelana (1931/1978)
Sandhyakala ning Majapahit (1971)
Kertadjaja (1971)

J.E.Tatengkeng :
Rindoe Dendam (1934)

Roestam Effendi :
Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan (1953)
Pertjikan Permenungan (1953)

Selasih :
Kalau Ta’ Oentoeng (1933)
Pengaruh Keadaan (1957)

DAN PENYAIR-PENYAIR ANGKATAN PUJANGGA BARU YANG LAIN

a. Asmara Hadi

Sajak-sajaknya penuh romantik dan kesedihan dan dalam sebagian sajaknya lagi terasa semangat perjuangan yang penuh keyakinan. Hal ini di ilhami luka jiwa yang disebabkan oleh kematian cintanya; seperti pada puisi ‘Kusangka Dulu‘, ‘Kuingat Padamu’

b. A. M. Thahir (A.M. Dg. Myala)

Sajak-sajaknya dimuat dalam ‘Pandji Poestaka’ majalah Indonesia dan lain-lain. Pada sajaknya ada kecendrungan kepada pelukisan kehidupan sehari-hari kaum buruh, misalnya dalam sajaknya yang berjudul ‘Buruh’.

c. M. R. Dajoh

Ia juga menaruh minat pada pelukisan kehidupan si kecil. Karyanya antara lain: ‘Syair Untuk A. S. I. B. (1935) dalam bahasa Belanda yang kemudian diterjemahkan lagi kedalam bahasa Indonesia.

d. Moehammad Zain Saidi (Mozasa)

Sajak-sajaknya hanya melukiskan kegembiraan menghadapi alam. Sajaknya sederhana namun didasari rasa cinta yang mesra, seperti dalam puisi yang berjudul: ‘Dikaki Gunung’.

e. A. Rivai (Yogi)

Pada tahun 1930 ia mengumumkan sekumpulan sajak dengan judul Gubahan dalam Sri Poestaka. Kumpulan sajaknya yang kedua berjudul ‘Puspa Aneka’ diterbitkanya sendiri yaitu pada tahun 1931.
Dari sajak-sajaknya akan tampak bahwa ia gemar akan teosofi dan terpengaruh oleh ajaran Krishnamurti.

Kecuali para penyair yang sudah disebut tadi dalam Poedjangga Baroe kita saksikan munculnya para penyair seperti Aoh K. Hadimadja, M. Taslim ‘Ali’ Bahrun Rangkuti, Maria Amin dan lain-lain yang perananya akan lebih penting pada kurun masa yang lebih kemudian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar